Ruang Dialektika

Langkah Kecil di Bawah Langit Kampus

Cerita Pendek
Maulia Ananda Salsabila
MPI A 23

Senja merayap pelan di langit kampus ketika azan Magrib menggema dari menara masjid, merambat lembut ke setiap sudut gedung tua. Di taman kecil dekat perpustakaan, Naila menutup laptopnya perlahan. Layar yang menampilkan draf proposal Festival Literasi Budaya Nusantara masih menyala, seolah ikut menunggu keputusannya. Di seberang meja, Raka teman satu divisi di organisasi kampus menatapnya sambil memutar botol minumnya dengan wajah sedikit merengut.

“Kenapa harus repot banget, Nail? Kita bisa bikin acara kekinian aja, yang rame, yang hits. Agar sponsor juga tertarik,” ucapnya, nada suaranya bercampur antara lelah dan ragu. Naila mengangkat kepalanya. Senja yang keemasan memantul di mata jernihnya. “Bukan soal hits, Rak. Ini soal pesan. Kita bisa membuat acara yang keren tanpa meninggalkan nilai budaya. Kampus ini kan tempat belajar, bukan cuma tempat viral-viralan.” Ucap Naila.

Mendengar ucapan Naila, Raka terdiam, pandangannya bergeser ke pohon flamboyan yang bergoyang pelan. Ia mengenal Naila cukup lama untuk tahu bahwa ucapannya bukan sekadar idealisme kosong. Mereka sama-sama lahir di era media sosial, terbiasa dengan sorotan kamera dan budaya cepat populer, tetapi Naila selalu punya cara pandang berbeda. modernitas, baginya, tak harus menenggelamkan akar budaya dan nilai agama.

Pandangan itu lahir dari perjalanan panjang. Beberapa bulan lalu, Naila sempat terjebak arus yang sama dengan kebanyakan mahasiswa lain. Nongkrong hingga larut malam, menunda salat, mengejar validasi like dan followers, sementara tugas kuliah sering terbengkalai. Namun, sebuah sore mengubah segalanya. Ia tak sengaja mengikuti kajian kampus, di mana seorang dosen muda berkata, “Ilmu tanpa nilai hanyalah angka kosong, dan budaya tanpa iman hanyalah seremonial.” Kalimat sederhana itu menancap seperti paku di hatinya. Sejak itu, Naila mulai menata hidup. rajin mengikuti diskusi, menghidupkan kebiasaan membaca AlQur’an selepas subuh, dan aktif di komunitas literasi budaya yang mengajarkan bahwa menjaga tradisi adalah bagian dari ibadah.

Kenangan itu menyalakan kembali tekadnya. “Rak,” ucap Naila lembut, memecah keheningan senja, “kita ini mahasiswa. Orang tua titip harapan, masyarakat titip masa depan. Kalau bukan kita yang melestarikan budaya sendiri, siapa lagi? Kita juga punya tanggung jawab sebagai muslim dan sebagai anak bangsa.”

Raka menoleh, tatapan matanya mulai luluh. Ada keraguan yang perlahan berubah menjadi semangat baru. “Baiklah. Kita bikin festival itu. Tapi… kita juga harus kemas supaya anakanak sekarang mau datang. Deal?”. Senyum lega terbit di wajah Naila. “Deal.”

Sejak itu hari-hari mereka dipenuhi persiapan. Proposal disempurnakan, sponsor dikejar, relawan dikumpulkan. Perbedaan pendapat sempat menegangkan, dana yang terbatas menuntut kreativitas, tetapi semua tantangan mereka hadapi bersama. Naila belajar memimpin dengan sabar, sedangkan Raka menemukan cara menyeimbangkan ide-ide segar dengan etika yang mereka junjung. Perlahan, kelelahan berubah menjadi keyakinan bahwa kerja keras ini lebih dari sekadar acara kampus ini adalah bentuk cinta pada ilmu, budaya, dan iman.

Saat hari pelaksanaan tiba, kampus seolah hidup dengan warna baru. Mahasiswa dari berbagai jurusan berdatangan, membawa antusiasme yang menular. Di panggung utama, seorang penyair muda membacakan puisi tentang persahabatan dan kejujuran. Di sudut lain, pengunjung belajar menulis aksara Jawa sambil mendengarkan lantunan shalawat. Pameran batik modern memikat banyak pengunjung muda yang sebelumnya menganggap budaya hanya milik orang tua. Semua kegiatan dikemas santai, penuh keceriaan, namun sarat makna.

Raka berdiri di samping Naila, matanya berbinar menyaksikan lautan manusia yang memenuhi halaman kampus. “Kamu bener, Nail,” ujarnya penuh kekaguman. “Ternyata kita bisa tetap gaul tanpa ninggalin nilai-nilai budaya, bahkan bisa bikin budaya itu terasa keren dan relevan buat generasi kita. Kadang yang kita anggap kuno sebenarnya punya cara sendiri untuk tetap hidup, asalkan kita mau merangkainya dengan hal-hal yang dekat dengan anak muda, seperti musik, konten kreatif, atau gaya komunikasi yang mereka sukai. Dengan begitu, budaya bukan cuma dikenang, tapi juga dirayakan dengan cara yang membuat mereka bangga.”

Naila menatap langit sore yang mulai memerah, merasakan kehangatan yang sulit diungkapkan. “Belajar itu bukan cuma soal teori,” ujarnya pelan, “tapi juga menjaga jati diri, sosial, budaya, dan agama. Kita hanya butuh keberanian untuk memulai langkah kecil.” Tambahnya. Azan Isya berkumandang dari kejauhan, menyapu seluruh area kampus. Tanpa banyak kata, mereka berjalan berdampingan menuju masjid. Di antara derap langkah dan semerbak wangi tanah basah, Naila berbisik dalam hati, mungkin langkah kecil yang mereka mulai hari ini akan menumbuhkan jejak besar bagi masa depan kampus, bangsa, dan budaya yang mereka jaga bersama.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *