Ruang Dialektika

Generalis dalam Memimpin

Muhammad Nabhan Fajruddin

Menjadi pemimpin artinya harus siap menghadapi keberagaman masyarakatnya. Ada yang memuji, ada yang mengkritik, ada yang mempertanyakan, bahkan ada yang menolak. Semua itu bagian dari kehidupan publik. Justru ketika suara-suara tersebut hadir, watak kepemimpinan sedang diuji, bagaimana seseorang menggunakan pengetahuan, kewenangan, dan kedewasaannya dalam merespons perbedaan.

Belakangan, kita menyaksikan beberapa cara pemimpin merespons persoalan publik yang mengherankan. Istilah “nye-nye-nye”, misalnya, muncul ketika orang nomor satu merespons pihak-pihak yang dinilainya gemar mengkritik pemerintah. Ungkapan itu kemudian menjadi perbincangan luas di ruang publik. Di sisi lain, ada pula sejumlah pernyataan yang ramai dipersoalkan masyarakat, mulai dari, persoalan informasi mengenai upah pengupas bawang yang keliru, sampai polemik buku Islam yang memuat nama sejumlah tokoh dan ulama tidak ada izin terlebih dahulu.

Persoalannya bukan semata-mata pada satu kalimat yang terucap atau satu informasi yang keliru. Ada hal yang lebih penting untuk direnungkan, bagaimana mekanisme pengetahuan di dalam diri seorang pemimpin. Berbagai sumber menunjukkan bahwa pemimpin hari ini bukan orang yang miskin bacaan. Beliau memiliki latar pendidikan, pengalaman birokrasi, akses terhadap informasi, dan kesempatan belajar yang luas. Namun, bacaan yang banyak belum tentu menjadikan seseorang memiliki keluasan dalam memandang kehidupan. Pengetahuan masih membutuhkan kebijaksanaan agar dapat ditempatkan sesuai dengan situasi.

Di ruang publik, kata-kata seorang pemimpin memiliki efek domino yang panjang. Tidak berhenti ketika selesai diucapkan, di zaman digital pernyataan tersebut direkam, dipotong, dikutip, dibicarakan di media sosial, dibawa ke ruang kelas, warung kopi, dan rumah-rumah masyarakat. Maka komunikasi kepemimpinan bukan perkara sepele. Pemimpin perlu memahami persoalan yang dibicarakan, mengenali siapa yang sedang diajak bicara, membaca suasana, dan mempertimbangkan bagaimana masyarakat menerima sebuah pernyataan. Kritik pun semestinya dipandang sebagai bagian dari kehidupan demokratis yang dapat membantu sebuah kebijakan menemukan bentuk yang lebih baik.

Persoalan semacam ini tentu tidak hanya berada di tingkat nasional. Di berbagai ruang kepemimpinan kita menemukan gejala yang serupa. Menteri, gubernur, bupati, rektor, kepala sekolah, bahkan pemimpin organisasi berhadapan dengan persoalan yang semakin beragam. Pendidikan bertemu dengan teknologi. Kebijakan bertemu dengan kondisi sosial. Administrasi bertemu dengan manusia. Satu keputusan dapat membawa dampak ke banyak sisi kehidupan.

Pada titik inilah saya teringat pada buku David Epstein, Range: Why Generalists Triumph in a Specialized World. Epstein (2019) menunjukkan bagaimana pengalaman yang beragam dapat menjadi modal penting untuk menghadapi dunia yang kompleks dan tidak mudah diprediksi. Ia melihat bahwa orang dengan pengalaman lintas bidang memiliki kesempatan lebih besar untuk menemukan hubungan di antara berbagai persoalan, melihat sesuatu dari sudut yang berbeda, dan memindahkan pengetahuan dari satu konteks ke konteks lainnya.

Gagasan range tersebut menarik jika dibawa ke dalam pembicaraan tentang kepemimpinan. Seorang pemimpin hidup di tengah persoalan yang tidak pernah berdiri sendiri. Ketika berbicara tentang pendidikan, ia perlu memahami anak, guru, keluarga, ekonomi, teknologi, budaya, dan masyarakat. Ketika berbicara tentang ekonomi, ada manusia dengan kebutuhan, harapan, dan kecemasan di balik angka-angka statistik. Ketika membuat kebijakan, ada kehidupan nyata yang akan menjalani akibatnya.

Oleh karenanya, keluasan pengalaman menjadi penting. Pemimpin generalis bukan orang yang mengetahui seluruh ilmu pengetahuan. Lebih dari itu, adalah seseorang yang memiliki cukup keluasan untuk memahami bahwa satu persoalan dapat dibaca melalui banyak jendela. Pemimpin generalis tahu kapan perlu menggunakan pengetahuan sendiri dan kapan harus mendengarkan orang lain yang lebih ahli.

Peran pendidikan menjadi penting dalam membentuk generasi pemimpin yang bijak. Pendidikan idealnya melahirkan manusia yang memiliki intelektualitas sekaligus kebijaksanaan. Intelektualitas membantu manusia memahami dunia. Kebijaksanaan membantu manusia menempatkan pemahamannya dalam kehidupan. Orang yang memiliki banyak pengetahuan dapat berbicara tentang sesuatu, tetapi pengalaman yang luas membuat seseorang belajar memahami kapan, di mana, dan dengan siapa pengetahuan itu digunakan.

Dalam kebudayaan Jawa, kita mengenal istilah empan papan. Ada kesadaran bahwa setiap perkataan dan tindakan memiliki tempatnya sendiri. Apa yang tepat di satu ruang belum tentu tepat di ruang yang lain. Pemimpin membutuhkan kepekaan semacam ini. Diperlukan kemampuan membaca suasana, mendengar suara masyarakat, dan memahami bahwa manusia yang dipimpinnya memiliki pengalaman hidup yang berbeda-beda.

Hal tersebut membutuhkan self-awareness. Seorang pemimpin perlu mengenali batas dirinya. Ada saat ketika ia harus menjelaskan, ada saat ketika ia perlu mendengar. Ada persoalan yang dapat diselesaikan dengan keputusan, ada pula yang membutuhkan percakapan panjang. Kesediaan menerima masukan menjadi bagian dari kematangan kepemimpinan. Dalam situasi seperti ini, kritik tidak perlu diperlakukan sebagai ancaman terhadap kewibawaan. Lebih dari itu, kritik dapat menjadi cermin untuk melihat bagian yang mungkin belum terlihat dari ruang kekuasaan.

Spesialis tetap memiliki tempat penting. Kita membutuhkan dokter yang mendalami kedokteran, ahli hukum yang memahami hukum, tentara yang menjaga dari ancaman perang, insinyur yang menguasai teknologi, dan akademisi yang tekun dalam bidang ilmunya. Namun, seorang pemimpin bekerja di atas berbagai keahlian tersebut. Ia perlu menghubungkan orang-orang yang memiliki kedalaman ilmu dan memastikan setiap pengetahuan dapat bertemu dengan persoalan yang sedang dihadapi.

Maka, menjadi generalis bukan berarti berhenti mendalami sesuatu. Generalis adalah proses memperluas pengalaman sehingga seseorang memiliki banyak cara untuk memahami dunia. Tidak hanya membaca buku, tetapi juga membaca keadaan. Tidak hanya belajar dari teori, tetapi juga belajar dari pengalaman manusia. Generalis tidak hanya mengenal dan paham angka atau statistik, tetapi tidak kehilangan kepekaan terhadap cerita di balik angka.

Dalam konteks pendidikan hari ini perlu kembali memikirkan pengalaman belajar. Ruang belajar tidak seharusnya berhenti pada empat dinding kelas. Mahasiswa perlu bertemu masyarakat, membaca persoalan lingkungan, berdialog dengan perbedaan, menggunakan teknologi, terlibat dalam kegiatan sosial, dan belajar menghubungkan teori dengan persoalan yang sedang berlangsung. Pengetahuan yang diperoleh di kelas perlu dibawa keluar untuk diuji oleh kehidupan, itulah konsep kelas tiga dinding ala Ki Hajar Dewantara.

Cara belajar seperti itu akan membantu membangun range dalam diri seseorang. Ia terbiasa melihat persoalan dari berbagai sisi, menghubungkan satu pengetahuan dengan pengetahuan lain, dan belajar menempatkan diri dalam konteks. Semangat tersebut sejalan dengan gagasan pendidikan Ki Hadjar Dewantara yang menempatkan pendidikan sebagai proses yang dekat dengan kehidupan manusia dan berlangsung dalam lingkungan keluarga, sekolah, serta masyarakat (Dewantara, 1961).

Pada akhirnya, bangsa ini membutuhkan pemimpin yang terus belajar. Bukan karena seorang pemimpin harus mengetahui segala sesuatu, melainkan karena kehidupan selalu menghadirkan sesuatu yang baru. Persoalan hari ini berbeda dengan persoalan kemarin. Teknologi berubah, masyarakat berubah, cara manusia berkomunikasi berubah, dan kebutuhan publik pun bergerak.

Menjawab isu hari ini, pertanyaan penting tentang kepemimpinan bukan lagi seberapa banyak buku yang telah dibaca seorang pemimpin. Pertanyaannya adalah seberapa jauh bacaan itu membentuk cara memahami manusia dan kehidupan. Pada dasarnya kepemimpinan membutuhkan keluasan pandangan yang tumbuh dari pengalaman belajar yang tidak pernah selesai.

Ki Hadjar Dewantara mewariskan kepada kita semangat menjadi manusia pembelajar. David Epstein mengingatkan pentingnya range. Keduanya bertemu pada satu gagasan sederhana yakni, manusia perlu terus membuka dirinya terhadap pengalaman. Dari sanalah lahir pemimpin yang mampu membaca zaman, memahami suara masyarakat, dan menempatkan pengetahuan pada tempatnya. Pada akhirnya, bangsa ini tidak kekurangan orang pintar. Lebih dari itu bangsa ini perlu manusia yang mampu menggunakan kepintarannya dengan bijaksana.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *