Dari MPI ke Tingkat ASEAN
Naratif
Luthfiyatun Karomah
Mahasiswa MPI A 23
Pada tahun 2026 ini, saya mendapatkan kesempatan yang sangat berharga untuk berkompetisi dalam ajang GRADASI (Gelanggang Kreasi Dunia Arab Berprestasi) tingkat ASEAN yang diselenggarakan di UIN Sunan Gunung Djati, Bandung. Mengangkat tema “Rekonstruksi Peradaban Melalui Literasi Bahasa Arab Sebagai Basis Identitas dan Intelektualitas”, festival internasional yang bergengsi ini berhasil menarik antusiasme yang luar biasa dengan diikuti oleh kurang lebih 430 peserta dari berbagai instansi di seluruh Indonesia hingga mancanegara.
Terdapat 10 cabang perlombaan yang dikompetisikan, salah satunya yaitu cabang lomba essai yang saya ikuti. Tahun ini menjadi momentum yang sangat bersejarah karena untuk pertama kalinya dalam sejarah GRADASI, cabang lomba esai tidak hanya dinilai secara tertulis, melainkan dilakukan melalui presentasi secara luring (offline) langsung di Bandung. Kredibilitas dan ketatnya kompetisi ini semakin terasa karena dewan juri yang dihadirkan berskala internasional, di mana salah satu juri utamanya didatangkan langsung dari negara Sudan.
Perjalanan akademis hingga saya bisa melangkah ke panggung ASEAN ini tidak lepas dari peran luar biasa Pak Islam selaku dosen pembimbing. Di saat saya sempat merasa ragu dan hampir menyerah menghadapi ketatnya kompetisi, Pak Islam adalah sosok mentor yang dengan penuh ketulusan selalu meyakinkan, memberikan motivasi kuat, dan menanamkan rasa percaya diri bahwa saya pasti mampu melaluinya. Berkat arahan dan bimbingan beliau yang luar biasa, saya mendapatkan kesempatan langka untuk keluar dari zona nyaman, bersaing, serta membangun relasi dengan orang-orang hebat yang memiliki latar belakang kebahasaan Arab yang sangat kental dan inspiratif.
Selain bimbingan dosen, kekuatan terbesar saya dalam menyelesaikan tantangan ini juga lahir dari doa serta dukungan tanpa henti dari kedua orang tua dan teman-teman dekat yang selalu setia menjadi support system terbaik.
Meskipun pada kompetisi kali ini saya belum berkesempatan untuk membawa pulang kemenangan, namun perjuangan ini memberikan arti yang jauh lebih besar. Melalui kompetisi di Bandung ini, saya membawa pulang banyak sekali pengalaman dan pelajaran hidup yang sangat berharga. Ajang ini berhasil membuka sudut pandang baru bagi saya bahwa mempelajari bahasa Arab ternyata sangat menyenangkan dan memiliki estetika yang tinggi. Selama berada di lingkungan perlombaan, saya dituntut untuk langsung beradaptasi dan memahami percakapan sehari-hari menggunakan bahasa Arab. Pengalaman tersebut terasa semakin berkesan karena dibersamai oleh atmosfer Kota Bandung yang hangat serta kelembutan tata krama dari warga lokalnya yang sangat ramah.