Warta Prodi

Bedah Buku “Paradigma Pendidikan Islam Humanis” Warnai Diskursus Akademik di UIN Raden Intan Lampung

Bandar Lampung – Masjid Safinatul Ulum UIN Raden Intan Lampung menjadi saksi digelarnya acara Bedah Buku berjudul “Paradigma Pendidikan Islam Humanis: Menggagas Format Pendidikan Nondikotomik” karya Prof. Abdurrahman Mas’ud, Ph.D., pada Ahad (7/9/2025) pukul 09.00 WIB. Kegiatan ini menghadirkan dosen Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Raden Intan, Muh. Nur Islam Nurdin, M.Pd., sebagai pemateri utama.

Dalam paparannya, Nur Islam Nurdin menjelaskan bahwa buku ini lahir dari keprihatinan Prof. Abdurrahman Mas’ud terhadap realitas pendidikan Islam yang masih terjebak pada pola pikir dikotomis, yakni pemisahan antara ilmu agama dan ilmu umum, atau antara Islam dan sekuler. “Pandangan semacam ini justru melemahkan kepercayaan diri umat Islam, sehingga membuat mereka tertinggal dalam berbagai bidang, mulai dari pendidikan, politik, ekonomi, hingga kebudayaan,” jelasnya.

Buku tersebut menawarkan gagasan pendidikan nondikotomik berbasis humanisme religius, yang memadukan nilai spiritual dan potensi kemanusiaan untuk membangun paradigma pendidikan Islam yang lebih integratif. Isinya terbagi ke dalam enam bab yang membahas akar masalah pendidikan Islam, landasan ideologis, perkembangan historis era nondikotomik dan dikotomik, hingga urgensi pembaruan paradigma.

Menurut Nur Islam, Prof. Abdurrahman Mas’ud menegaskan bahwa sejak masa Nabi Muhammad SAW hingga lima abad pertama Islam, tidak dikenal adanya dikotomi ilmu. Ilmu agama dan ilmu nonagama berkembang harmonis dan saling melengkapi. Namun, kemunculan Madrasah Nizamiyyah menjadi titik balik lahirnya dikotomi, karena hanya menekankan ilmu agama, khususnya fikih. Kondisi tersebut menjadikan pendidikan Islam kehilangan keseimbangan dan berujung pada kemunduran.

Sebagai solusi, konsep humanisme religius ditawarkan untuk mengembangkan manusia secara utuh, baik sebagai individu religius, sosial, maupun khalifah di muka bumi. Paradigma ini mengkritisi praktik keberagamaan yang cenderung menekankan ritual semata, namun lemah dalam kesalehan sosial dan kurang mengapresiasi potensi peserta didik. Pendidikan, menurut gagasan ini, harus bersifat integratif—menyatukan dimensi duniawi dan ukhrawi, serta menumbuhkan tanggung jawab personal maupun sosial.

Implementasi paradigma tersebut menuntut perubahan pada aspek guru, metode, materi, murid, dan evaluasi. Guru tidak hanya sebagai pengajar, tetapi juga pembimbing yang mengenali potensi siswa secara personal, menumbuhkan kreativitas, dan kepekaan sosial. Materi pelajaran diharapkan menyentuh dimensi moralitas dan spiritualitas, sementara evaluasi perlu menimbang aspek kognitif, afektif, dan psikomotorik sekaligus. Dengan demikian, pendidikan Islam diharapkan melahirkan insan yang tidak hanya berilmu, tetapi juga berkarakter dan relevan dengan tantangan zaman.

Acara bedah buku ini disambut antusias oleh para peserta. Harapannya, kegiatan ilmiah semacam ini dapat terus berlanjut serta menjadi tradisi intelektual yang mengakar di lingkungan akademik UIN Raden Intan Lampung.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *