Kajian Keagamaan: Kupas Interpretasi Kepemimpinan Laki-laki dan Perempuan dalam Islam
Program Studi dan Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Manajemen Pendidikan Islam (MPI) UIN Raden Intan Lampung menggelar diskusi bertajuk “Interpretasi Kepemimpinan Laki-laki dan Perempuan dalam Islam” pada Minggu, 31 Agustus 2025 pukul 09.00 WIB melalui platform Zoom Meeting.
Kegiatan ini menghadirkan Muh. Rizaldi, M.Ag., lulusan terbaik sekaligus tercepat Program Studi Ilmu Al-Qur’an dan Tafsir (IAT) UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta, sebagai narasumber. Diskusi dimoderatori oleh Muh. Nur Islam Nurdin, M.Pd., dosen Program Studi Manajemen Pendidikan Islam UIN Raden Intan Lampung. Forum ini bersifat terbuka untuk umum dan diikuti antusias oleh mahasiswa dari berbagai jurusan.
Dalam pemaparannya, Muh. Rizaldi menekankan pentingnya membedakan secara jelas antara istilah gender dan jenis kelamin dalam perspektif Islam. Menurutnya, sering kali terjadi penafsiran keliru karena pemahaman yang tidak menyeluruh terhadap dua terminologi tersebut. “Kesalahan tafsir ini membuat sebagian kalangan memunculkan narasi yang tidak sesuai dengan spirit Islam,” ujarnya.
Lebih lanjut, Rizaldi menyoroti isu kepemimpinan perempuan dalam Islam. Ia menegaskan bahwa narasi yang seharusnya dibangun di masyarakat adalah keberadaan teladan pemimpin wanita yang luar biasa, seperti Ratu Bilqis yang dikenal dalam Al-Qur’an, serta Aisyah R.A. yang menjadi salah satu rujukan utama dalam periwayatan hadis.
Pada bagian akhir diskusi, Rizaldi mengingatkan bahwa pandangan diskriminatif terhadap perempuan bukanlah narasi Islam, melainkan tafsir individu atau kelompok tertentu dalam memahami ayat dan hadis. “Islam tidak mendiskreditkan perempuan, justru memberi ruang bagi siapa pun untuk memimpin, selama memiliki kapasitas dan integritas,” jelasnya.
Kegiatan diskusi ini memberikan perspektif baru bagi mahasiswa, khususnya dalam memahami isu kepemimpinan dalam Islam. Islam, menurut Rizaldi, tidak menilai kepemimpinan hanya dari gender atau jenis kelamin, melainkan lebih menekankan pada kemampuan sosial, emosional, kecerdasan, serta spiritualitas seorang pemimpin.